PENGEMBANGAN STRATEGI PEMBELAJARAN BAGI SISWA UNTUK MENGOPTIMALKAN KEMAMPUAN MEMBACA PEMAHAMAN (READING COMPREHENSION) BAHASA INGGRIS
Abstrak
Sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin pesat, terutama dalam teknologi percetakan maka semakin banyak informasi yang tersimpan di dalam buku. Pada semua jenjang pendidikan, kemampuan membaca menjadi skala prioritas yang harus dikuasai siswa. Membaca adalah hal yang sangat fundamental dalam proses belajar dan pertumbuhan intelektual. Bagi siswa, membaca tidak hanya berperan dalam menguasai bidang studi yang dipelajarinya saja. Namun membaca juga berperan dalam mengetahui berbagai macam kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang terus berkembang. Banyak cara mengajarkan membaca antara lain: circle of questions, ECOLA, PORPE, Jot Charts, Socratic Circles, mengajarkan strategi membaca lewat analisis seni visual, penggunaan WordWork untuk Mengurai Kata, dan Reading Aloud. Serta kesabaran serta kemampuan dalam mengajar guru, sehingga menumbuhkan motivasi membaca siswa sehingga anak senang membaca.
Latar Belakang
Membaca merupakan kebutuhan setiap orang. Berbagai macam informasi, pesan, kesan ilmu pengetahuan, dan berbagai maksud penulis akan dapat diperoleh dengan melakukan kegiatan membaca. Segala informasi di penjuru dunia ini dapat diketahui melalui membaca. Dengan banyak membaca (terutama membaca pemahaman), pembaca dapat mengetahui tentang perkembangan dan kemajuan di bidang ilmu pengetahuan, teknologi, sosial, budaya, dan lain-lain. Dengan kata lain menurut Bambang (2011:1), “membaca merupakan sebuah sarana bagi manusia untuk menguak cakrawala pengetahuan”.
Di sekolah-sekolah diajarkan cara membaca yang baik dan benar sesuai dengan tujuan membaca. Sebagian besar pemerolehan ilmu dilakukan peserta didik melalui aktivitas membaca. Keberhasilan studi seseorang akan sangat ditentukan dari proses membacanya. Kemampuan dan kemauan membaca tersebut akan sangat mempengaruhi keluasan pandangan tentang berbagai masalah. Oleh karena itu hendaknya menaruh perhatian yang cukup terhadap usaha peningkatan kemampuan dan kemauan membaca para peserta didik (Nurgiyantoro, 2011:368-369).
Penelitian yang dilakukan oleh Sangkaeo (1999:3) menginformasikan bahwa masyarakat Indonesia bukanlah masyarakat membaca (reading society) tapi masyarakat lisan (chatting society). Membaca untuk mendapatkan informasi baru dilakukan oleh 23,5% dari total penduduk Indonesia. Hal ini seiring dengan yang dikemukakan oleh Bambang (2011:1) yang menyatakan bahwa membaca belum menjadi kebutuhan hidup bangsa Indonesia.
Rendahnya kemauan membaca para peserta didik mengakibatkan kurangnya pemahaman terhadap suatu bacaan. Hal ini mengakibatkan timbulnya berbagai permasalahan yang terjadi di sekolah. Sebagaimana dikutip dari pernyataan Darmiyati Zuchdi mengenai berbagai permasalahan yang timbul di sekolah. Darmiyati Zuchdi (2008:9) menyatakan, ”Berbagai masalah yang dihadapi oleh anak didik dalam hal membaca tidak dapat ditemukan secara dini. Beberapa masalah yang ditemukan pun tidak dapat diatasi secara baik. Hal ini berakibat mereka yang telah tamat pendidikan menengah dan perguruan tinggi hanya mampu mencapai komprehensi yang rendah jika diminta membaca dalam kecepatan normal. Pada kenyataannya banyak permasalahan dalam hal membaca pemahaman, untuk itu perlunya mencari solusi yang tepat terutama pembelajaran di sekolah karena dari sekolah adalah tempat siswa belajar.”
Pemahaman isi bacaan secara baik sangat diperlukan bagi siswa karena ilmu yang dipelajari sebagian besar terdapat pada bahan tertulis. Hasil kegiatan membaca yang berupa pemahaman bacaan ditentukan oleh cara-cara yang digunakan untuk membaca. Cara-cara yang digunakan untuk membaca disebut strategi pembelajaran membaca.
Strategi pembelajaran membaca diperlukan bagi siswa untuk mempermudah mendapat informasi. Bagi mereka yang tidak mempunyai keterampilan menggunakan strategi membaca yang tepat akan selalu terlambat dalam memperoleh informasi. Agar hal tersebut tidak terjadi, seorang guru harus dapat memilih dan menggunakan teknik pembelajaran yang beragam. Tujuannya adalah mencegah terjadinya kejenuhan pada siswa.
Strategi yang diterapkan guru dalam mengajar dapat mempengaruhi keefektifan dan keberhasilan pembelajaran. Pemilihan strategi yang tepat dapat menciptakan suasana belajar mengajar yang kondusif, sehingga siswa dapat dengan mudah menerima materi pembelajaran dengan baik. Selain itu, keberhasilan pembelajaran dan proses pengajaran itu efektif, guru harus mengetahui strategi pembelajaran yang bervariasi dan tidak bertumpu pada satu metode saja. Strategi yang bervariasi dapat merubah kejenuhan siswa, sehingga siswa lebih senang dan bersemangat dalam belajar.
Siswa harus memiliki kemampuan dalam membaca agar dapat memahami makna yang terdapat dalam bacaan. Tanpa adanya kemampuan membaca yang baik, maka siswa tidak dapat memahami proses pembelajaran dan materi yang diajarkan. Oleh karena itu, keterampilan membaca telah diajarkan pada siswa sejak kelas 1 di tingkat SD, bahkan di tingkat Taman Kanak-Kanak anak juga sudah dilatih untuk mengenal huruf dan membaca.
Oleh karena itu, guru harus dapat menerapkan strategi membaca yang tepat dalam mengajarkan siswa di kelas rendah. Strategi membaca yang digunakan oleh guru, harus sesuai dengan kebutuhan siswa. Penggunaan strategi yang tepat sangat membantu siswa dalam menguasai kemampuan membaca. Strategi membaca di kelas rendah berbeda dengan strategi membaca yang diterapkan pada siswa kelas tinggi. Hal ini dikarenakan siswa kelas rendah diajarkan untuk mengenal huruf dan dapat membaca. Akan tetapi, strategi yang diajarkan pada siswa kelas tinggi lebih terfokus pada pemahaman atau makna yang terdapat dalam bacaan
Rumusan Masalah
Rumusan masalah dalam makalah ini adalah: pengembangan strategi pembelajaran bagi siswa yang bagaimana yang mampu mengoptimalkan kemampuan membaca pemahaman (reading comprehension) Bahasa Inggris?
Landasan Teori
Pengertian Membaca
Tarigan (2008:7) mendefinisikan membaca sebagai suatu proses yang dilakukan serta dipergunakan oleh pembaca untuk memperoleh pesan, yang hendak disampaikan oleh penulis melalui media kata-kata atau bahasa tulis. Senada dengan hal tersebut, Nurgiyantoro (2011:368) mendefinisikan membaca sebagai aktivitas mental memahami apa yang dituturkan pihak lain melalui sarana tulisan. Pada hakikatnya huruf dan atau tulisan hanyalah lambang bunyi bahasa tertentu. Oleh karena itu, dalam kegiatan membaca kita harus mengenali bahwa lambang tulis tertentu itu mewakili (melambangkan, menyarankan) bunyi tertentu yang mengandung makna yang tertentu pula.
Definisi lain dikemukakan oleh Suhardi dan Zamzani (2005:192) bahwa membaca merupakan suatu proses mencakup berbagai tahap yang meliputi semua kegiatan dan teknik yang ditempuh oleh pembaca. Hasil kegiatan membaca berupa tercapainya komunikasi pikiran dan perasaan pembaca dengan penulisnya. Komunikasi itu sendiri dapat terjadi karena terdapat kesamaan pengetahuan, asumsi, dan praanggapan antara pembaca dan penulis. Agar dapat memaknai bacaan secara baik, pembaca harus mampu mengoprasionalkan skemata (linguistik dan nonlinguistik) yang telah dimiliki secara efektif.
Berdasarkan beberapa pendapat para ahli, terdapat inti yang sama dalam kaitan membaca yaitu proses memahami suatu gagasan atau pesan melalui objek yang berupa tulisan atau lambang grafis. Hal terpenting dalam kegiatan membaca adalah proses. Proses yang sistematis akan mempermudah mencapai tujuan membaca.
Tujuan Membaca
Tujuan membaca secara umum menurut Tarigan (2008:9) adalah untuk mencari serta memperoleh informasi, mencari isi, memahami makna bacaan. Makna arti (meaning) berhubungan erat dengan maksud, tujuan, atau intensi dalam membaca. Berikut ini dikemukakan beberapa yang penting perihal tujuan membaca menurut Anderson (dalam Tarigan, 2008: 9-11).
1) Membaca untuk memperoleh perincian-perincian atau fakta-fakta (reading for details or facts).
2) Membaca untuk memperoleh ide-ide utama (reading for main ideas).
3) Membaca untuk mengetahui urutan atau susunan, organisasi cerita reading for sequence or organization).
4) Membaca untuk menyimpulkan, membaca inferensi (reading for inference).
5) Membaca untuk mengelompokkan, membaca untuk mengklasifikasikan (reading to classify).
6) Membaca untuk menilai, membaca mengevaluasi (reading to evaluate).
7) Membaca untuk memperbandingkan atau mempertentangkan (reading to
compare or contrast).
Rahim (2011:11) juga mengemukakan tujuan membaca yang terdiri atas: (1) kesenangan, membaca untuk memperoleh kesenangan, misalnya dengan membaca suatu karya yang menghibur; (2) menyempurnakan membaca nyaring, (3) menggunakan strategi tertentu, (4) memperbaharui pengetahuannya tentang suatu topik, (5) mengaitkan informasi baru dengan informasi yang telah diketahuinya, (6) memperoleh informasi untuk laporan lisan atau tertulis, (7) mengkonfirmasi atau menolak prediksi, (8) menampilkan suatu eksperimen atau mengaplikasikan informasi yang diperoleh dari suatu teks dalam beberapa cara lain dan mempelajari tentang struktur teks, dan (9) menjawab pertanyaan-pertanyaan yang spesifik.
Berbagai tujuan membaca yang dikemukakan di atas, merupakan tujuan membaca yang bersifat khusus. Tujuan membaca yang bersifat umum adalah memperoleh informasi, mencakup isi, dan memahami makna yang terkandung dalam bahan bacaan.
Proses Membaca
Membaca bukanlah merupakan proses yang pasif melainkan aktif artinya, seorang pembaca harus aktif menangkap isi bacaan yang dibaca, tidak boleh hanya menerimanya saja. Pembaca harus berusaha menangkap pesan yang terdapat dalam bacaan secara aktif, setelah itu memahami lebih lanjut isi yang terdapat di dalamnya, dan kalau perlu mengomentari. Jadi tidak begitu saja menerima seluruh pesan yang disampaikan (Harras dan Sulistianingsih, 1997:1-8).
Selanjutnya proses membaca juga tidak selamanya identik dengan proses mengingat. Membaca bukan harus hafal kata demi kata atau kalimat demi kalimat yang terdapat dalam bacaan. Yang lebih penting ialah menangkap pesan atau ide pokok bacaan dengan baik. Berikut ini merupakan proses membaca: a) membaca sebagai suatu proses psikologi (mental age), b) membaca sebagai proses sensoris, c) membaca sebagai proses perseptual, d) membaca sebagai proses perkembangan, e) membaca sebagai proses perkembangan keterampilan berbahasa (Harras dan Sulistianingsih, 1997: 8-11).
Jenis-Jenis Membaca
a. Membaca Nyaring
Membaca nyaring adalah suatu aktivitas atau kegiatan yang merupakan alat bagi guru, murid, ataupun pembaca bersama-sama dengan orang lain atau pendengar untuk menangkap atau memahami informasi, pikiran, dan perasaan seorang pengarang. Membaca nyaring merupakan kegiatan membaca dengan mengeluarkan suara atau kegiatan melafalkan lambang-lambang bunyi bahasa dengan suara yang cukup luas. Membaca nyaring bertujuan agar seseorang mampu mempergunakan ucapan yang tepat, membaca dengan jelas, dan tidak terbata-bata, membaca dengan tidak terus-menerus melihat pada bahan bacaan, membaca dengan menggunakan intonasi dan lagu yang tepat dan jelas.
b. Membaca Senyap (dalam hati)
Membaca senyap atau dalam hati adalah membaca tidak bersuara, tanpa gerakan bibir, tanpa gerakan kepala, tanpa berbisik, memahami bahan bacaan yang dibaca secara diam atau dalam hati, kecepatan mata dalam membaca tiga kata per detik, menikmati bahan bacaan yang dibaca dalam hati, dan dapat menyesuaikan kecepatan membaca dengan tingkat kesukaran yang terdapat dalam bacaan itu. Dari definisi tersebut dapat dikatakan bahwa membaca senyap adalah kegiatan membaca yang dilakukan dengan tanpa menyuarakan isi bacaan yang dibacanya. Membaca dalam hati dapat dibagi atas:
1) Membaca Ekstensif: berarti membaca secara luas. Objeknya meliputi sebanyak mungkin teks dalam waktu yang sesingkat mungkin. Membaca ekstensif ini meliputi membaca survei, membaca dangkal dan membaca kilat. Langkah baca kilat ini memasukkan semua data yang ada di buku dan membuat pikiran bawah sadar dalam memori jangka panjang familiar. Langkah ini juga meingkatkan kemampuan otak. Pada saat melakukan langkah baca kilat umumnya orang merasakan kepalanya lebih berat atau merasa ada semacam sensasi yang terasa seperti aliran listrik atau semacamnya. Tetapi, setiap orang bisa berbeda. Hal-hal yang terasa itu kemungkinan besar terjadi karena sambungan sel neuron yang terbentuk selama kit mengekspos otak kita dengan informasi yang banyak dengan sangat cepat, satu halaman satu detik. Ketrampilan membaca cepat/membaca kilat untuk menemukan informasi teks berbasis latihan berjenjang dan pengalaman telah terbukti mengalami peningkatan dan mengalami perubahan.
2) Membaca Intensif: adalah studi seksama, telaah, teliti, dan penanganan terperinci yang dilaksanakan di dalam kelas terhadap suatu tugas yang pendek kira-kira 2-4 halaman perhari. Membaca intensif dibedakan atas membaca telaah isi dan membaca telaah bahasa. Membaca telaah isi terdiri atas: membaca teliti, membaca pemahaman, membaca kritis, membaca ide, membaca kreatif, membaca bahasa, membaca sastra.
Pengertian Membaca Pemahaman
Soedarso (2000:58-59) mendefinisikan pemahaman atau komprehensi membaca sebagai kemampuan membaca untuk mengerti ide pokok, detail yang penting, dan seluruh pengertian. Untuk mencapai pemahaman tersebut, perlu beberapa tahap yaitu menguasai perbendaharaan kata dan akrab dengan struktur dasar dalam penulisan (kalimat, paragraf, dan tata bahasa). Pemahaman membaca tiap orang berbeda-beda berdasarkan kemampuan memahami apa yang dibacanya. Kemampuan tersebut berupa minat yang dimiliki pembaca, perbendaharaan kata yang dimiliki, kecepatan interpretasi, latar belakang pengalaman sebelumnya, jangkauan mata, kemampuan intelektual, keakraban dengan ide yang dibaca, tujuan membaca dan keluwesan mengatur kecepatan.
Membaca pemahaman menurut Somadyo (2011:10) merupakan proses pemerolehan makna aktif dengan melibatkan pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki oleh pembaca serta dihubungkan dengan isi bacaan. Terdapat tiga hal pokok dalam membaca pemahaman yaitu (1) pengetahuan dan pengalaman yang telah dimiliki, (2) kemampuan menghubungkan pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki dengan teks yang akan dibaca, (3) proses pemerolehan makna secara aktif sesuai dengan pandangan yang dimiliki.
Yoakan (dalam Ahuja & Ahuja, 2010:50) mendefinisikan bahwa membaca pemahaman merupakan membaca dengan cara memahami materi bacaan yang melibatkan asosiasi (kaitan) yang benar antara makna dan lambang (simbol) kata, penilaian konteks makna yang diduga ada, pemilihan makna yang benar, organisasi gagasan ketika materi bacaan dibaca, penyimpanan gagasan, dan pemakaian dalam berbagai aktifitas sekarang atau mendatang.
Tingkat pemahaman yang disusun oleh Burn, dkk. dalam Wahyuni (2009: 187) yakni (1) literal comprehension (pemahaman literal) merupakan kemampuan menangkap informasi yang dinyatakan secara tersurat dalam teks, (2) interpretative comprehension (pemahaman interpretatif) merupakan pemahaman reorganisasi dan inferensial, (3) critical comprehension (pemahaman kritis) merupakan kemampuan mengevaluasi teks, dan (4) creative comprehension (pemahaman kreatif) merupakan pengembangan pemikiran sendiri untuk membentuk gagasan baru.
Berdasarkan beberapa pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa membaca pemahaman adalah kegiatan berpikir untuk menafsirkan teks tertulis agar mendapatkan pemahaman makna yang disampaikan secara luas. Kemampuan pemahaman yang berbeda-beda menuntut setiap orang untuk mengetahui faktor-faktor yang dapat mendukung maupun menghambat dalam membaca. Hal tersebut diperlukan untuk mencapai kesuksesan dalam membaca khususnya membaca pemahaman.
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Membaca Pemahaman
Banyak faktor yang mempengaruhi kemampuan membaca pemahaman. Menurut Yap (dalam Harras dan Sulistiyaningsih, 1997: 18-19), kemampuan membaca seseorang sangat ditentukan oleh pengaruh sejauh mana (lamanya) seseorang melakukan aktivitas membaca. Untuk menguatkan pendapatnya, Yap melaporkan hasil penelitiannya ihwal perbandingan faktor-faktor yang mempengaruhi kemampuan membaca tersebut sebagai berikut: 65% ditentukan oleh banyaknya waktu yang digunakan untuk membaca, 25% oleh faktor IQ, dan 10% oleh faktor-faktor lain berupa lingkungan sosial, emosional, lingkungan fisik, dan sejenisnya. Dengan demikian, menurut Yap, untuk meningkatkan kualitas kemampuan membaca seseorang maka perbanyaklah melakukan aktivitas membaca.
Ebel (dalam Harras dan Sulistiyaningsih, 1997: 18-19) berpendapat bahwa faktor yang mempengaruhi tinggi rendahnya kemampuan pemahaman bacaan yang dapat dicapai oleh siswa dan perkembangan minat bacanya tergantung pada faktor-faktor berikut: (1) siswa yang bersangkutan, (2) keluarganya, (3) kebudayaannya, dan (4) situasi sekolah.
Beberapa pendapat mengenai faktor yang mempengaruhi kemampuan serta minat membaca, agaknya pendapat Pearson-lah yang dapat dianggap sebagai cermin dari kesimpulan. Menurut Pearson faktor-faktor yang mempengaruhi kemampuan serta minat membaca dapat diklasifikasikan ke dalam dua faktor, yakni faktor-faktor yang bersifat intrinsik (yang berasal dari dalam pembaca) dan faktor-faktor yang bersifat ekstrinsik (berasal dari luar pembaca). Faktor intrinsik antara lain meliputi kepemilikan kompetensi bahasa pembaca, minat, motivasi, dan kemampuan membacanya. Faktor-faktor ekstrinsik dibagi menjadi dua kategori. Pertama, unsur-unsur yang berasal dari dalam teks bacaan, kedua unsur-unsur yang berasal dari lingkungan baca (Harras dan Sulistiyaningsih, 1997: 19-20).
Pembahasan dan Solusi
Korelasi dalam Kegiatan Membaca
Keterampilan berbahasa berkolerasi dengan proses – proses berfikir yang mendasari bahasa. Sehingga ada sebuah ungkapan, “bahasa seseorang mencerminkan pikirannya”. Semakin terampil seseorang berbahasa, semakin cerah dan jelas jalan pikirannya. Kegiatan membaca perlu dibiasakan sejak dini, yakni mulai dari anak mengenal huruf. Siswa sebaiknya kegiatan membaca sebagai suatu kebutuhan dan menjadi hal yang menyenangkan. Membaca dapat dilakukan dimana saja dan kapan saja asalkan ada keinginan, semangat dan motivasi. Jika hal ini terwujud, diharapkan membaca dapat menjadi bagian dari kehidupan yang tidak dapat dipisahkan seperti sebuah slogan yang mengatakan “tiada hari tanpa membaca”. Tentunya ini memerlukan ketekunan dan latihan yang berkesinambungan untuk melatih kebiasaan membaca agar kemampuan membaca, khususnya membaca pemahaman dapat dicapai. Kemampuan membaca ialah kecepatan membaca dan pemahaman isi secara keseluruhan.
Keluhan tentang rendahnya kebiasaan membaca dan kemampuan membaca di tingkat Sekolah Menengah (SMP/MTs, SMA/MA, dan SMK/MAK), tidak bisa dikatakan sebagai kelalaian guru pada sekolah yang bersangkutan. Namun hal ini harus dikembalikan lagi pada pembiasaan menbaaca ketika siswa masih kecil. Peranan orang tualah yang lebih dominan dalam membentuk kebiasaan membaca anak. Bagaimana mungkin seorang anak memiliki kebiasan membaca yang tinggi sedangkan orang tuanya tidak pernah memberikan contoh dan mengarahkan anaknya agar terbiasa membaca. Karena seorang anak akan lebih tertarik dan termotivasi malakukan sesuatu kalau disertai denagn pemberian contoh, bukan sekedar teori atau memberi tahu saja. Ketika anak memasuki usia sekolah barulah guru memiliki peran dalam mengembangkan minat baca yang kemudian dapat meningkatkan kebiasaan membaca siswa. Dengan demikian, orang tua dan guru sama- sama memiliki peran yang sangat penting dalam membentuk dan meningkatkan kebiasaan membaca anak.
Menurut Mc. Donald dalam Santrock (2010), motivasi adalah perubahan energi dalam diri seseorang yang ditandai dengan munculnya feeling dan dadahului dengan tanggapan terhadap adanya tujuan. Dari pengertian tersebut mengandung tiga elemen penting yaitu:
1) Bahwa motivasi itu mengawali terjadinya perubahan energi pada diri setiap individu manusia. Perkembangan motivasi akan membawa beberapa perubahan energi didalam sistem neurophysiological yang ada pada organisme manusia. Motivasi itu muncul dari dalam diri manusia, penampakannya akan menyangkut kegiatan fisik manusia.
2) Motivasi ditandai dengan munculnya, rasa, afeksi seseorang. Dalam hal ini motivasi relevan dengan persoalan – persoalan kejiwaan, afeksi dan emosi yang dapat menentukan tingkah laku manusia.
3) Motivasi akan dirangsang karena adanya tujuan. Jadi motivasi dalam hal ini sebenarnya merupakan respon dari suatu aksi, yakni tujuan. Motivasi memang muncul dari dalam diri manusia, tetapi kemunculannya karena terdorong oleh adanya unsur lain, dalam hal ini adalah tujuan. Tujuan ini akan menyangkut soal kebutuhan.
Membaca dalam Pembelajaran Bahasa Inggris
Membaca adalah kegiatan reseptif aktif. Reseptif yaitu ketika membaca, pembaca memperoleh informasi atau pesan yang ingin disampaikan oleh penulis. Aktif yaitu ketika membaca, pembaca melakukan kegiatan aktif dengan menggunakan kemampuan penglihatan dan kognitifnya untuk dapat memaknai lambang-lambang yang dilihatnya dan menginterpretasikannya, sehingga isi dari bacaan tersebut dapat dipahami dan bermakna.
Di dalam kegiatan pembelajaran bahasa menurut Sudaryat (2008:4) terdapat berbagai komponen yang berinteraksi dan berjalinan untuk membentuk satu kesatuan. Komponen-komponen itu adalah tujuan, isi atau bahan ajar, siswa, guru, metode, media, dan evaluasi. Agar komponen-komponen itu dapat kait-mengkait secara sistematis, diperlukan prosedur untuk melaksanakannya yang disebut strategi.
Peranan Guru dalam Meningkatkan Kualitas Membaca Siswa
Guru adalah salah satu komponen manusiawi dalam proses belajar-mengajar, yang ikut berperan dalam ussaha pembentukan sumber daya manusia yang potensial di bidang pembangunan. Oleh karna itu guru yang merupakan unsur salah satu unsur di bidang kependidikan harus berperan serta secara aktif dan menempatkan kedudukannya sebagai tenaga profesional, sesuai dengan tuntutan masyarakat yang semakin berkembang.
Sehubungan dengan fungsinya sebagai pengajar, pendidik dan pembimbing, maka diperlukan adanya berbagai peranan pada diri guru. Mengenai apa peranan guru itu ada beberapa pendapat yang menjelaskan sebagai berikut:
1) Prey Katz dalam Usman (2006) menggambarkan peranan guru sebagai komunikator, sahabat yang dapat memberikan nasihat–nasihat, motivator, sebagai pemberi inspirasi dan dorongan, pembimbing dalam pengembangan sikap dan tingkah laku serta nilai – nilai orang menguasai bahan yang diajarkan.
2) James W. Brown dalam Usman (2006) mengemukakan bahwa tugas dan peranan guru antara lain: menguasai dan mengembangkan materi pelajaran, merencanakan dan mengembangkan materi pelajaran, merencanakan dan mempersiapkan pelajaran sehari – hari, mengontrol dan mengevaluasi kegiatan siswa.
3) Federasi dan Organisasi Profesional Guru Sedunia dalam Usman (2006) , mengungkapkan bahwa peranan guru di sekolah, tidak hanya sebagai transformiter dari ide tetapi juga berperan sebagai tranformer dan katalisator dari nilai dan sikap.
Peranan guru sebagai motivator ini penting artinya dalam rangka meningkatkan kegairahan dan pengembangan kegiatan belajar siswa. Guru harus dapat merangsang dan memberikan dorongan serta reinforcement untuk mendanamiskan potensi siswa, menumbuhkan aktivitas dan daya cipta (kreativitas), sehingga akan terjadi dinamika di dalam proses belajar-mengajar. Peranan guru sebagai inisiator dalam hal ini guru sebagai pencetus ide – ide dalam proses belajar. Sudah barang tentu ide – ide itu merupakan ide – ide kreatif yang dapat dicontoh oleh anak didiknya.
Dalam usaha meningkatkan kemampuan, minat dan motivasi belajar siswa, termasuk pembenahan kualitas membaca siswa yang sangat rendah, guru dituntut benar – benar bisa memainkan peranan dalam proses belajar mengajar di kelas. Peran yang dimaksud adalah bagaimana cara guru mengajarkan bahan pelajaran agar mampu diserap siswa. Dengan kata lain, jangan sampai gagal gara – gara cara mengajarkannya kurang tepat. Disinilah peran metode/cara pengajaran yang diperoleh dari hasil penelitian, yang telah diuji kemampuannya sangat penting. Penggunaan metode yang diperoleh dari kajian ilmiah secara tepat akan menentukan berhasilnya suatu pengajaran. Karena itulah guru yang professional harus menguasai dan mampu menerapkan metode/cara pengajaran, dimana metode tersebut diperoleh dari kajian penelitian yang bersifat ilmiah secara tepat.
Masalahnya sekarang, sudahkah semua guru melaksanakan penelitian untuk menemukan metode/cara dalam rangka meningkatkan kualitas pengajarannya? Disisi lain, mungkinkah karena guru – guru kita jarang atau tidak pernah meneliti sehingga tidak memiliki metode yang tepat untuk meningkatkan kualitas pengajarannya, termasuk dalam meningkatkan kemampuan membaca siswa. Bisa dimengerti memang, jika tindakan meneliti untuk menungkatkan kualitas pengajaran sangat rendah dilakukan duru dipengaruhi oleh beberapa keadaan. Diantarannya, susah memulai, malas membaca, keterbatasan waktu, perlu biaya, dan sebagainya. Yang berpulang pada minimnya minat meneliti. Masuk akal juga, alasn itu jika dikaji secara material karena untuk menghasilkan sebuah hasil penelitian seorang guru harus merogoh kantong sendiri dalam hal pembiayaan. Lain halnya seorang dosen, penelitian adalah ladang bisnis, bisa mendatangkan income yang besar.
Munculnya wacana rendah gairah meneliti di kalangan guru tidak terlepas dari makin keroposnya idealisme para guru ditengah budaya materialistic – hedonistic yang mengutamakan keberhasilan dari sudut untung rugi secara ekonomis, ketimbangan mutu untuk meningkatkan kualitas pendidikan yang pada gilirannya bersenergi dalam peningkatan citra dan mutu guru untuk naik pangkat atau sertifikasi, melainkan untuk memperkaya wawasan keilmuan. Disamping itu kegiatan meneliti sangat bermanfaat untuk menumbuhkan semangat cinta belajar sesuai dengan prinsip belajar seumur hidup dan memupuk rasa rendah hati dalam kebersahajaan hidup ditengah – tengah masyarakat yang makin heterogen dan makin kompleks akibat pengaruh ilmu pengetahuan, informasi dan teknologi yang merajalela menembus ruang dan waktu tanpa batas.
Strategi Pembelajaran Membaca Pemahaman (Reading Comprehension) untuk Mengoptimalkan Kemampuan Membaca Pemahaman
Siswa harus memiliki kemampuan dalam membaca agar dapat memahami makna yang terdapat dalam bacaan. Tanpa adanya kemampuan membaca yang baik, maka siswa tidak dapat memahami proses pembelajaran dan materi yang diajarkan. Oleh karena itu, keterampilan membaca telah diajarkan pada siswa sejak tingkat SD, bahkan di tingkat Taman Kanak-Kanak anak juga sudah dilatih untuk mengenal huruf dan membaca.
Oleh karena itu, guru harus dapat menerapkan strategi membaca yang tepat dalam mengajarkan siswa. Strategi membaca yang digunakan oleh guru, harus sesuai dengan kebutuhan siswa. Penggunaan strategi yang tepat sangat membantu siswa dalam menguasai kemampuan membaca.
a. Circle of Questions (Pemetaan Pertanyaan)
Circle of Questions (Pemetaan Pertanyaan) adalah sebuah strategi membaca pemahaman yang melibatkan siswa dalam diskusi, memprediksi, membuat pertanyaan tentang teks, menggolongkan, dan berinteraksi dengan teks untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan. Strategi ini menuntut agar pembaca membuat keputusan sendiri tentang apa yang ingin mereka ketahui dan terdapat langkah-langkah yang sistematis untuk diikuti. Selain itu, strategi ini juga menggunaan informasi sumber-sumber lain untuk menemukan jawaban dari pertanyaan siswa. Strategi ini dapat membantu siswa dalam menulis beberapa paragraf tentang suatu topik, membuat pertanyaan dan menemukan jawaban mereka sendiri. Strategi ini mengarahkan siswa dan guru untuk berpikir kritis dan membuat kelompok belajar kooperatif (Wiesendanger, 2000: 170).
Kelemahan strategi Circle of Questions (Pemetaan Pertanyaan) adalah strategi ini tidak tepat diterapkan pada pengajaran pengetahuan yang bersifat prosedural seperti pengetahuan keterampilan. Sangat sulit diterapkan jika sarana seperti buku tidak tersedia. Strategi pemetaan pertanyaan juga tidak efektif diterapkan pada kelas dengan jumlah siswa yang terlalu besar karena bimbingan guru tidak maksimal terutama dalam merumuskan pertanyaan.
b. ECOLA (Extending Concept trough Language Activities)
ECOLA (Extending Concept trought Language Activities) yang dikembangkan oleh Smith-Burke (1982), merupakan usaha untuk mengintegrasikan membaca, menulis, berbicara, dan mendengarkan untuk tujuan pengembangan kemampuan membaca. Kemampuan tersebut bermanfaat untuk memaknai dan memantau pemahaman siswa. ECOLA dibangun melalui lima tahap, yaitu:
1) menentukan tujuan yang komunikatif untuk membaca
2) membaca dalam hati untuk sebuah tujuan dan standar tugas
3) mewujudkan pemahaman melalui aktivitas menulis
4) melaksanakan diskusi dan klarifikasi atas pemaknaan dan
5) menulis dan membandingkan (Zuchdi, 2008: 147-149).
Kelemahan strategi ECOLA (Extending Concept trought Language Activities) adalah banyaknya langkah yang harus dilakukan siswa sehingga siswa kesulitan dalam memahami langkah tersebut, sebelum siswa memahami bacaan yang mereka baca. Siswa juga harus membandingkan tulisan satu dengan yang lain, hal ini membutuhkan pemahaman mendalam dan latar pengetahuan yang cukup, sehingga untuk kemampuan tingkat siswa SMA akan mengalami kesulitan.
c. PORPE (Predict, Organize, Rehearse, Practice, Evaluate)
PORPE (Predict, Organize, Rehearse, Practice, Evaluate) merupakan suatu teknik membaca untuk studi yang dikembangkan oleh Simpson (1986), yang didesain untuk menolong siswa dalam: (1) secara aktif merancang, memantau, dan mengevaluasi materi bacaan yang dipelajari; (2) mempelajari proses yang terlibat dalam menyiapkan ujian esai; dan (3) menggunakan proses menulis sebagai sarana untuk mempelajari materi bidang studi. Teknik ini dikembangkan untuk siswa dan mahasiswa yang kurang dapat menggunakan sistem belajar komprehensif (Zuchdi, 2008: 147-149).
Kelemahan teknik ini adalah siswa tidak dapat menuangkan ide dalam bentuk tulisan akan mengalami kesulitan dibanding siswa yang pandai dalam bidang menulis. Ada siswa yang pandai mengemukakan pendapatnya melalui tanya-jawab (berbicara), namun jika diminta menulis siswa merasa kesulitan. Siswa seperti ini akan menghambat proses pembelajaran yang menggunakan strategi PORPE.
d. Jot Charts
Jot Charts merupakan strategi yang dapat membantu siswa menjadi lebih terorganisasi dan metodis dalam pengambilan catatan mereka karena strategi tersebut mendorong siswa untuk fokus pada unsur penting dalam materi. Dengan menulis konsep-konsep penting, siswa memproses informasi dan lebih dapat mengingatnya. Dalam kegiatan membaca yang dilakukan siswa, mereka merefleksi, memproses, dan menghubungkan informasi. Jot Charts lebih khusus digunakan untuk belajar ujian karena strategi ini membantu siswa mengingat unsur yang penting. Strategi ini lebih berguna untuk mendaftar topik utama pada kolom pertama dan alternatif untuk pertanyaan daftar karakteristik, sifat, atau detail pada kolom berikut (Wiesendanger, 2000: 185).
Kelemahan yang terdapat pada strategi Jot Charts adalah strategi ini merupakan strategi yang diterapkan untuk individual saja sehingga tidak ada langkah diskusi atau bertukar pendapat. Strategi ini hanya cocok untuk materi yang panjang sehingga mudah diingat dengan menuliskan poin-poin pentingnya saja.
e. Socratic Circles (Lingkaran Socrates)
Lingkaran Socrates merupakan suatu proses untuk mencoba memahami informasi dengan menciptakan dialektika di kelas tentang suatu bacaan. Dalam lingkaran Socrates, peserta mencari pemahaman yang lebih dalam tentang ide-ide yang kompleks dalam teks melalui dialog bijaksana, bukan dengan menghafal bait informasi. Lingkaran Socrates bukanlah debat. Tujuan dari kegiatan ini agar peserta bekerja sama untuk membangun makna dan tiba di sebuah jawaban, bukan untuk satu siswa atau satu kelompok untuk "memenangkan argumen" (Copeland, 2005: 5).
Lingkaran Socrates melibatkan komponen-komponen berikut: (1) siswa harus membaca teks terlebih dahulu dan (2) lingkaran konsentris siswa: sebuah lingkaran luar dan lingkaran dalam. Lingkaran dalam berfokus pada eksplorasi dan menganalisis teks melalui tindakan mempertanyakan dan menjawab. Selama fase ini, lingkaran luar tetap diam. Siswa dalam lingkaran luar bertindak sebagai pengamat ilmiah yang menonton dan mendengarkan percakapan lingkaran dalam. Ketika teks telah sepenuhnya dibahas dan lingkaran dalam selesai berbicara, lingkaran luar memberikan umpan balik pada dialog yang terjadi. Proses ini bergantian antara siswa lingkaran dalam ke lingkaran luar untuk pertemuan berikutnya dan sebaliknya. Panjang proses ini bervariasi, tergantung pada teks yang digunakan untuk diskusi. Guru dapat memutuskan untuk kelompok alternatif dalam satu pertemuan, atau mereka mungkin bergantian pada setiap pertemuan berikutnya. Perbedaan yang paling signifikan antara aktivitas dan kegiatan kelas yang biasanya melibatkan peran guru, namun dalam lingkaran Socrates, siswa memimpin diskusi dan tanya jawab. Peran guru adalah untuk memastikan bahwa diskusi tidak menyimpang atau ke luar jalur dari teks tersebut. (Copeland, 2005: 19).
Menurut Copeland (2005: 20-35), langkah-langkah melakukan strategi lingkaran Socrates adalah sebagai berikut:
1) Guru menyiapkan bahan bacaan (teks) yang akan dibaca oleh siswa.
2) Guru meminta siswa secara acak membagi kelompok menjadi dua kelompok, kemudian kelompok yang telah terpilih diintruksikan agar duduk membentuk lingkaran besar dan lingkaran kecil.
3) Guru menunjuk salah seorang pada lingkaran dalam untuk menjadi moderator.
4) Guru membagikan bahan bacaan (teks) kepada siswa kemudian meminta siswa membaca bacaan tersebut.
5) Setelah siswa selesai membaca, siswa di lingkaran dalam berdiskusi dipimpin oleh moderator dengan metode tanya-jawab selama sepuluh menit.
6) Siswa pada lingkaran luar mengamati, memberi penilaian, dan mencatat kinerja lingkaran dalam.
7) Setelah itu siswa di lingkaran luar memberi umpan balik pada siswa di lingkaran dalam.
8) Guru hanya sebagai fasilitator yang mengawasi jalannya diskusi, biarkan siswa mencari pemahamannya sendiri dengan cara diskusi.
f. Mengajarkan strategi membaca lewat analisis seni visual
Karya seni bisa memberikan gambaran yang hidup bagi murid. Seni bisa masuk ke dalam konten murid-murid. Teori skema menjelaskan bagaimana pengalaman, pengetahuan, emosi,dan pemahaman, dikelas sebelumnya, mempengaruhi apa dan bagaimana kita belajar (Dalman, 2013). Semua pembaca punya skema, tetapi sebagai seorang guru SD, penting bagi kita untuk memberikan contoh dan mengajar mereka bagaimana mengakses dan menerapkan pengetahuan yang mereka punya, untuk meningkatkan pemahaman dan rasa senang mereka. Murid yang masih belajar membaca sering membaca teks tanpa menghubungkan isinya dengan hidup mereka, teks lain, atau dunia dimana mereka hidup. Mereka sering tidak “mengkritisi” teks dengan apa yang mereka sudah ketahui untuk memastikan apa teks itu masuk akal. Mengajar mereka untuk menghubungkan bacaan dengan apa yang mereka ketahui, adalah strategi penting pertama karena setiap anak punya emosi,opini,dan pengalaman pribadi yang dapat mereka hubungkan,dan membuat kegiatan membaca lebih bermanfaat.
g. Penggunaan WordWork untuk Mengurai Kata
Saat orang berpikir tentang wordwork, mereka biasanya berpikir tentang pengejaan. Wordwork adalah akativitas yang memberikan kesempatan untuk membentuk keterampilan dan meraih fleksibilitas dengan memanipulasi huruf-huruf dan bunyi untuk menghasilkan sebuah arti. Pola intruksi pengejaan dibanyak kelas sangat berbeda dengan intruksi strategi membaca. Pelajaran wordwork yang efektif dapat dipakai untuk secara simultan dalam mengembangkan penulisan dan pembacaan kata-kata.
h. Reading Aloud
Kefasihan, ekspresi dan suara, frasa, dan penguraian adalah istilah yang sering dipakai oleh guru membaca di mana-mana. Kefasihan berati kemampuan untuk membaca dengan lancar. Pembaca yang fasih membaca seolah-olah mereka sedang melakukan pembicaraan. Suaranya tidak terputus-putus. Kefasihan ini bisa dimiliki jika mereka sudah menguasai penguraian, mengenali frasa, dan ekspresi. Membaca adalah satu proses yang kompels yang harus dicontohkan, diajarkan, dilatih dan dievaluasi setiap harinya. Termasuk juga kemampuan untuk mengurai kata-kata dan juga frasa, suara atau nada, ekspresi, dan kefasihan yang tepat.
Simpulan dan Saran
Pada dasarnya membaca merupakan suatu proses. Proses membaca termasuk dalam kegiatan membaca pemahaman. Kegiatan membaca itu terdiri atas proses membaca dan produk membaca. Pada dasarnya kegiatan membaca bertujuan untuk mencari dan memperoleh pesan atau memahami makna melalui bacaan. Jenis-jenis membaca antara lain membaca nyaring dan membaca senyap. Banyak cara mengajarkan membaca antara lain: circle of questions, ECOLA, PORPE, Jot Charts, Socratic Circles, mengajarkan strategi membaca lewat analisis seni visual, penggunaan WordWork untuk Mengurai Kata, dan Reading Aloud. Dan yang tidak kalah penting adalah kesabaran serta kemampuan dalam mengajar guru, sehingga menumbuhkan motivasi membaca anak sehingga anak senang membaca. Perlu adanya ketekunan dan latihan yang berkesinambungan untuk melatih kebiasaan membaca siswa agar kemampuan membaca yang dimiliki siswa dapat dikembangkan dan ditingkatkan, serta perlu adanya peran serta orang tua dan guru didalam membentuk dan meningkatkan kebiasaan seorang siswa.
Daftar Pustaka
Ahuja, Pramila dan Ahuja G.C. (2010). Membaca secara Efektif dan Efisien. Bandung: PT Kiblat Buku Utama.
Bambang. (2011). Penerapan Digital Library Sebagai Langkah Strategis Menstimulasi Budaya Membaca Di Masyarakat [Online]. Tersedia: http://pustaka.uns.ac.id/?opt=1001&menu=news&option=detail&nid=346 [7 April 2012].
Copeland, Matt. (2005). Socratic Circles: Fostering Critical and Creative Thinking in Middle and High School. Portland, MN: Stenhouse.
Dalman. (2013). Keterampilan Membaca. Jakarta: PT Rajagrafindo Persada.
Sangkaeo, Somsong. (1999). Reading Habit Promotion in ASEAN Libraries [Online]. Available at: http://www.ifla.org/IV/ifla65/papers/091-114e.htm [30 September 2011].
Santrock, John W. (2010). Educational Psychology 2nd Edition (Dialihbahasakan oleh Tri Wibowo B.S). Dallas: McGraw-Hill Company, Inc.
Sudaryat, Yayat. (2008). Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG) Mata Pelajaran Muatan Lokal Bahasa Daerah [Online]. Tersedia http://file.upi.edu/Direktori/FPBS/JUR._PEND._BAHASA_DAERAH/196302101987031-YAYAT_SUDARYAT/PENGEMBANGAN_BELAJAR_BAHASA_DAERAH.pdf [20 Juni 2012].
Wiesendanger, Katherine. D. (2001). Strategies for Literacy Education. Columbus: Merrill Prentice Hall.
No comments:
Post a Comment